PROPAGANDA MEDIA DIBALIK PANDEMI COVID-19
Nama : ELSA ANGGIANI (E2A019344)
(PRODI MANAJEMEN UNIMUS)
Salah satunya seperti kemunculan video singkat beriisi teori-teori baru yang kini banyak beredar di media sosial dan pesan singkat WhatsApp. Dalam video berdurasi tak lebih dari 18 menit itu, disampaikan sederet teori terkait kemunculan covid-19 dan goal yang diinginkan para elit global.
Video yang diunggah FE 101 Channel pada 31 Maret 2020 lalu contohnya. Video dengan judul Episode 18 Teror Virus Corona itu saat ini telah ditonton lebih dari 800 ribu kali hingga Sabtu (4/4/2020).
Narator dalam video menjelaskan secara detail tentang keberadaan virus corona yang nyatanya sudah ada sejak lama. Sedangkan covid-19 yang kini baru saja muncul tersebut meruoakan hasil perkembangan genetiik dari virus corona itu sendiri.
Dijelaskan jika virus seperti covid-19 tersebut sebelumnya juga sudah menyerang masyarakat di belahan dunia. Di antaranya seperti SARS yang diketahui muncul sejak 2002 lalu dan MERS yang ditemukan pada 2012.
Dua jenis virus itu dijelaskan jauh lebih berbahaya ketimbang covid-19. Namun lantaran penyebaran covid-19 jauh lebih cepat, maka membuat penyakit satu ini lebih ganas. Apalagi, junlah kematian akibat covid-19 lebih banyak daripada SARS dan MERS.
Hingga kini, sejumlah daerah di Indonesia semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap Covid-19 yang, menurut informasi dari media, penyebarannya telah meluas. Sosialisasi pencegahan penularan Covid-19 terus digalakan di kalangan masyarakat meski melalui media massa dan online sebagai perantara.
Sebanyak 19 daerah teindikasi risiko penularan Covid-19 karena memiliki akses langsung dari dan menuju Tiongkok. Daerah itu antara lain adalah Jakarta, Tangerang, Bandar Lampung, Denpasar, Surabaya, Padang, Tarakan, Manokwari, Bandung, dan Manado.
Namun, bisa jadi, sangat sulit untuk mendapatkan bukti yang bisa membantu melacak dan mengidentifikasi virus ini. Sebab, keadaan di pasar Huanan, Wuhan, yang katanya menjadi pusat Covid-19 keadaannya tak jauh berbeda dengan situasi beberapa pasar di Indonesia.
Belakangan ini, juga ada isu yang beredar bahwa ada beberapa warga negara Indonesia telah terjangkit virus korona. Tentu hal ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Namun, mengapa kecemasan ini dapat terjadi?
Soal pemberitaan mengenai virus Corona yang kian menjadi momok menakutkan misalnya, terlihat media massa ikut berperan mempropagandakan isu. Hal ini sangat tampak, seketika ada postingan yang beredar terkait meninggal maupun sementara dirawatnya beberapa pasien yang diduga atau terindikasi positif Corona.
Namun, selang 3-5 jam kemudian, beredar infomasi di grup percakapan WhatsApp dan Facebook terkait klarifikasi dari pasien yang tadinya diduga terinfeksi Covid-19. Tentu, hal ini sangat membingungkan publik.
Kemudian, seminggu terakhir ini media digerogoti dengan mahalnya harga masker yang melonjak drastis. Harga normal masker naik menjadi Rp 400 ribu/boks dari Rp 30 ribu/boks.
Hal inilah yang membuat media berbalik lebih meng-update masalah tersebut ketimbang penularan Covid-19 yang sedang merongrong masyarakat dan pemerintah. Terlihat saat ini, debat kusir di media sosial lebih fokus membahas harga masker ketimbang mengantisipasi diri dari penularan virus menakutkan.
Propaganda media inilah yang akhirnya membuat banyak orang cemas, dan berbagai kasus yang semestinya menjadi sorotan dalam ruang diskusi seperti halnya korupsi, rancangan undang-undang (RUU) Cipta Kerja, intoleransi, serta merebaknya demam berdarah di Kabupaten Sikka yang telah merenggut puluhan jiwa seketika hilang begitu saja dari ruang diakletika.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo bahwa ketakutan kita saat ini adalah, bukan virus itu sendiri, melainkan rasa cemas, rasa panik, ketakutan, dan berita-berita hoaks. Oleh karena itu, media semestinya tidak turut serta menimbulkan sindrom yang berlebihan ditengah geliat perang melawan Covid-19. Media konvensional harus mampu menetralisir keadaan agar masyarakat menghadapi situasi saat sekarang tanpa ada ketakutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar